Memori kolektif di kepalaku menghimpun ragam senyumanmu,
dari bibir pipih hingga ia berkembang,
dari rapatnya simpul hingga unjuk gigi
Koleksi sinematik yang ku ulang-ulang menjelang menepi ke alam mimpi, terpujilah!
Tiap ia berucap dan larut dengan isi kepalamu, di sanalah aku hanyut
Memori kolektif di kepalaku menangkap binar kedua matamu,
ia benderang di setiap tuturmu,
perihal angan, buah pikiran, kegemaran, kebahagiaan, kegelisahan
Celakanya, ia menghentikan tuturku, seketika tak bergeming, sebab terlampau elok dipandang
Kerap ia terpantul di kaca matamu, tampak mata ketiga, keempat, kelima
tapi aku tak pernah bosan mencari, melirik-lirik, agar tatap menetap pada mata yang asli
Memori kolektif di kepalaku merajut wewangian yang melekat pada pakaianmu,
Keterbatasanku, tidak pandai mendeskripsikan wangi
Namun ia membawaku menapaki kebun raya di musim semi,
dengan segala cerah, harum, teduh, tenang, tapi tanpa alergi
Sesungguhnya, aku takut, jika itu juga perlu dihirup untuk bertahan hidup
Boleh tidak, jemari kita berpadu lagi sebentar?
Untuk aku menambah memori kolektif yang akrab dengan segala-galanya kamu?
23/03/2024