Ia adalah gambar kanker tenggorokan dalam bungkus rokok.
Ia adalah jawaban atas salam dengan suara sekencang-kencangnya.
Ia adalah isian daging dalam tahu hot jeletot.
Apa yang telah terbudayakan dalam hatimu?
Lagi-lagi, hanya basa-basi busuk
Di mana kamu letakkan nilai yang hakiki dan luhur?
Di ujung kelopak mata hingga luput dari pandangmu?
Sarat makna, paradigma yang ganjil bila mengganjal di sela-sela otakmu
Bila terus menafikan keadaan ini,
sia-sia juga Tuhan menganugerahi pikir dalam benakmu
Desa Nangka, 6 Agustus 2015
Tamparan bagi keberadaanku.
Minggu, 06 September 2015
Your Ghost
Lalu kamu berpikir lagi,
bersedih itu lumrah,
insan mana tak diguncang gulana
Tapi kamu berpikir lagi,
dirundung pilu terlalu biasa,
hingga terlampau bijaksana
Dan terus berpikir lagi,
betapa sakti mandraguna,
dijarah amarah, tetapi tak pasrah berdarah
Tak henti-hentinya berpikir lagi,
"Mengapa Tuhan memandangku sekuat itu?"
Bandung, 20 Oktober 2014
bersedih itu lumrah,
insan mana tak diguncang gulana
Tapi kamu berpikir lagi,
dirundung pilu terlalu biasa,
hingga terlampau bijaksana
Dan terus berpikir lagi,
betapa sakti mandraguna,
dijarah amarah, tetapi tak pasrah berdarah
Tak henti-hentinya berpikir lagi,
"Mengapa Tuhan memandangku sekuat itu?"
Bandung, 20 Oktober 2014
Jodohku, Maunyaku Dirimu
Tenang, Fans, aku vokal menyanyikan Indonesia Raya,
Jika sumbang, aransemen ulang
Tenang, Fans, daulatmu nomor satu,
"Lalala yeyeye" sebagai lagu wajib mengantri di RUU
Tenang, Fans, hak-hakku, semua di luar kepala,
Sebab tertulis di buku saku
Tenang, Fans, aku ditempa sinetron layar kaca,
Aktingku setara pascasarjana
Tenang, Fans, komisi berapapun kuterima demi kamu,
Meski senjang dengan komisi saat manggung
Tenang, Fans, aku selebriti, parasku takkan lawas walau silih berganti,
Sebab my middle name is "tv"
Bandung, 12 Oktober 2014
Jika sumbang, aransemen ulang
Tenang, Fans, daulatmu nomor satu,
"Lalala yeyeye" sebagai lagu wajib mengantri di RUU
Tenang, Fans, hak-hakku, semua di luar kepala,
Sebab tertulis di buku saku
Tenang, Fans, aku ditempa sinetron layar kaca,
Aktingku setara pascasarjana
Tenang, Fans, komisi berapapun kuterima demi kamu,
Meski senjang dengan komisi saat manggung
Tenang, Fans, aku selebriti, parasku takkan lawas walau silih berganti,
Sebab my middle name is "tv"
Bandung, 12 Oktober 2014
Mendadak Dangdut
Kegemulaian kami dipecut deadline
Begadang pun kini ada artinya, Bang Haji
Sebab kami dituntut dinamis dan enerjik
Selayakna dangdut masa gotik
Bandung, 11 Oktober 2014
Begadang pun kini ada artinya, Bang Haji
Sebab kami dituntut dinamis dan enerjik
Selayakna dangdut masa gotik
Bandung, 11 Oktober 2014
Mungkin Waktu Mengantuk
Apakah ia lelah?
Ataukah ia mulai lapar?
Sepertinya bosan?
Sebab detiknya tak kunjung 60
Tunggu,
Aku adalah waktu?
Ataukah ia mulai lapar?
Sepertinya bosan?
Sebab detiknya tak kunjung 60
Tunggu,
Aku adalah waktu?
Galau
Ketika itu, tak terjalin benang merah antara logika dan emosi
Benak hampir terjerumus dalam ambisi, dan represi di lain sisi
Gundah, dilema luar biasa, terparah dalam dasawarsa
Namun tertiba terlintas,
Bahwa aku cukup dewasa untuk tentukan,
"Indomie pakai nasi" atau tidak
Oh, betapa
Bandung, 9 Oktober 2014
Benak hampir terjerumus dalam ambisi, dan represi di lain sisi
Gundah, dilema luar biasa, terparah dalam dasawarsa
Namun tertiba terlintas,
Bahwa aku cukup dewasa untuk tentukan,
"Indomie pakai nasi" atau tidak
Oh, betapa
Bandung, 9 Oktober 2014
Anginkah yang Menusuk Tulangmu?
Lama-lama, tubuhnya berkawan gelugut,
Lagi-lagi, sendi-sendinya terkikis sepoi-sepoi,
Lebih-lebih tujuh keliling, pening hingga tak bergeming,
Lompat-lompat di perut, semilirnya lewat pantat,
Dia lagi, dia lagi.
Bandung, 8 Oktober 2014
Lagi-lagi, sendi-sendinya terkikis sepoi-sepoi,
Lebih-lebih tujuh keliling, pening hingga tak bergeming,
Lompat-lompat di perut, semilirnya lewat pantat,
Dia lagi, dia lagi.
Bandung, 8 Oktober 2014
Aku adalah Pagimu
Karenanya, aku yang pertama menyingkap kelopak matamu,
Karenanya, aku luput, tak sempat terhirup udaranya sebab porak-poranda langkahmu,
Karenanya, aku terganti, oleh siang dan malammu, selayang pandang,
Karenanya, esok akan kembali,
Dan terus berulang.
Bandung, 7 Oktober 2014
Karenanya, aku luput, tak sempat terhirup udaranya sebab porak-poranda langkahmu,
Karenanya, aku terganti, oleh siang dan malammu, selayang pandang,
Karenanya, esok akan kembali,
Dan terus berulang.
Bandung, 7 Oktober 2014
Langganan:
Postingan (Atom)