Lalu kamu berpikir lagi,
bersedih itu lumrah,
insan mana tak diguncang gulana
Tapi kamu berpikir lagi,
dirundung pilu terlalu biasa,
hingga terlampau bijaksana
Dan terus berpikir lagi,
betapa sakti mandraguna,
dijarah amarah, tetapi tak pasrah berdarah
Tak henti-hentinya berpikir lagi,
"Mengapa Tuhan memandangku sekuat itu?"
Bandung, 20 Oktober 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Jangan terlalu banyak memikirkan luka, sebab Tuhan memberinya tuk tinggikan derajatmu, mungkin setara puncak Himalaya:)
BalasHapus